Apa lagi yang bisa kutuliskan
tanpa panduan dan aku buta aksara
Dibelantara maya yang tak kutahu tepiannya
Sedangkan kita begitu nyata terdeteksi indera
Lalu dapatkah aku membaca tentang rasa
yang pernah kau kecap dan mencium aromanya
Sedang aku masih terbata mengeja
Rasa yang datar dan kembali reinkarnasi
mungkin bias kucoba sampaikan sepotong kata
menyingkat sandiwara peran nyata
pasti AKU, KAMU dan KITA pelakonnya
Bukan cerita haru drama sendu di hutan batu
Ya,, bagiku, DEBU yang melumuri kalbu takkan mampu menutup RINDU
~d~ 290211
merangkai serpihan kata
sebab langit yang semakin tinggi, dan tidak ada perubahan berarti disini, semuanya masih sama, tentang goresan pada hitam putihnya pelangi yang terangkai dari serpihan cerita-cerita lara dan suka tentang kita semua
Saturday, September 10, 2011
Sunday, June 12, 2011
inkonsistensi
makin menikam ketika pekat menjelang,
hitam menghantam,,
kelam meradang,
dan aku disudutkan waktu yang terus memburu
dimana aku,,
hilang pada sajak petang ~ sirna pada senja
aku merindu rasamu,
kala pesakitan dimamah waktu,
hingga bersetubuh dengan jemu
jika distorsi tak layak kupakai lagi,
pulangkan kembali belati kata ketangan kiri
menyepuh waktu
Sepekan penuh menyepuh waktu tak harap kilau, hanya melepas debu yang melekat pada ujung sepatu// memindai angan kadang mengandalkan hujan datang menjadi pembersih secara perlahan// kataku laksana pencari jejak namun hanya rimba didalam kotak,, awal dan akhir bertemu dititik itu// menipu... mungkin siasat jitu, lewati labirin semu// saatnya menyepuh waktu dengan menggeser PENANDA BUKU//
jalan buntu
membeku aku bersama waktu, dilingkung debu dan tak membekas kecup didahi bayu, bak kehilangan penanda buku
ketika hujan mengiringi angin tak menggiring angan
Tak penting bagiku mana yang lebih dulu//
sebelum atau setelah hujan luruh //
bukankah tabu tak kasat mata buatmu //
ekspetasi mesti mengawini improvisasi//
walau tak berbenih puisi //
aku mesti menikmati ....
tarian kaki telanjang dimanapun hujan datang //
sebelum atau setelah hujan luruh //
bukankah tabu tak kasat mata buatmu //
ekspetasi mesti mengawini improvisasi//
walau tak berbenih puisi //
aku mesti menikmati ....
tarian kaki telanjang dimanapun hujan datang //
Sunday, May 29, 2011
belum ingin pulang
belum ada keinginan pulang ~
masih mengekor pada bayang nan tak kunjung hilang ~
bahkan ketika pekat kian menghitam //
akan pulang setelah jalan tak lagi menguntit bayang bayang ~ melenggang ~ diiringi hujan //
akan pulang setelah lepas seluruh pakaian
040211
masih mengekor pada bayang nan tak kunjung hilang ~
bahkan ketika pekat kian menghitam //
akan pulang setelah jalan tak lagi menguntit bayang bayang ~ melenggang ~ diiringi hujan //
akan pulang setelah lepas seluruh pakaian
040211
opera tepian mimpi
mari kita menepi,,,
sejenak saja dan biarkan hari mendahului ~
bukankah masih ada sisa trotoar
untuk kita, beserta bunga bunganya
sebagaimengisi ruang rongga dada..
mari menepi,,,
sedenting saja ~
menyepi dari sangkakala klakson pemekak telinga,
dan berharap gaungnya terganti dengung garpu tala,, ...
020211
sejenak saja dan biarkan hari mendahului ~
bukankah masih ada sisa trotoar
untuk kita, beserta bunga bunganya
sebagaimengisi ruang rongga dada..
mari menepi,,,
sedenting saja ~
menyepi dari sangkakala klakson pemekak telinga,
dan berharap gaungnya terganti dengung garpu tala,, ...
020211
Subscribe to:
Posts (Atom)